Teringat akan kisah beberapa bulan lalu, dimana seorang sahabat SMU curhat mengenai hubungan pernikahannya dengan suaminya yang sudah tidak romantis lagi dan sedang berada di ambang perceraian…(sesi curhat yang membuat tidak tidur semalaman, sehingga di kantor ngantuk pooolll pun terjadi…). 

Sepasang suami istri yang sudah diridhoi dua orang putra putri yang lucu ini hidup terpisah orang jarak geografi. Yang satu berada di tapanuli tengah sedang yang satu tinggal di kota aceh. Mereka paling bertemu hanya 2 bulan sekali, dan itupun tidak lebih dari 2 hari. Setiap hari si istri bekerja dan demikian juga dengan sang suami. Anak-anak dirawat oleh kakek dan neneknya. Si istri barulah bisa mengurus anaknya setelah ia pulang dari kerjanya.  Kondisi ini tidak hanya terjadi selama sehari melainkan berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Semua terlihat biasa dan baik-baik saja.

Suatu hari, sang istri yang tadinya menganggap kondisi ini baik-baik saja akhirnya menyadari bahwa ternyata mereka tidak baik-baik. Ya…ada yang salah dalam hubungan  mereka. Akhirnya sang istri pun berusaha mencari tahu kehidupan suaminya di lokasi yang cukup jauh itu. Selidik punya selidik si istri mendapati bahwa sang suami bermain curang padanya. Suami memiliki wanita lain tempat ia curhat dan berbagi rasa. Mendengar hal tersebut maka si istri berniat langsung mengungjungi suami dan menanyakan hal tersebut.  dan akhirnya tibalah si istri di kota dimana suaminya bekerja. Tanpa tedeng aling-aling sang istri nanya…”siapa si Linda (bukan nama asli)?”, lalu sang suami menjawab, oh..si Linda itu mantannya Agus (teman dari si suami, bukan nama asli red), aku cukup dekat dengan dia lewat telepon tapi kami tidak ada hubungan apa-apa, aku kan sudah punya istri dan anak”.  si Istri pun  menjawab dengan sejumlah dialog dan kemudian mengakhirinya dan tidak memperpanjang  hal tersebut lagi.

Tapi diam-diam, sang istri menyelidiki perempuan tersebut dan akhirnya bertukaran no pin bb dan telp. Pembicaraan diantara mereka pun terjadi, dan perempuan itu, si linda berkata “ya, tadinya aku tidak tau kalau dia sudah menikah, tapi begitu aku tahu aku sudah tidak mau melanjutkan hubungan tersebut. Suamimu yang mendekati aku dan menggoda-goda aku.”.  Kemudian, sang istri marah dan meminta agar Linda jangan mengganggu hubungan rumah tangga mereka. Namun, linda membantah dan mengatakan bahwa dirinya tidak ada mengganggu hubungan mereka tapi suaminya lah yang mengganggu, mengirim bingkisan dan juga hadiah-hadiah ringan. Lalu sang istri pun berang dan tak bisa menahan dirinya dan kemudian percekcokan dengan suami pun dimulai.

Di tengah percekcokan mereka yang sangat emosional,  sang suami dengan santainya berkata  “kalau kamu tidak suka mari kita cerai…daripada bertengkar begini..capek!!.”. Mendengar kata-kata sang suami maka si istri tiba-tiba merasa seperti disambar petir, kaku, perih dan seperti mati suri. Ia langsung terdiam dan meneteskan air mata sembari memukul ringan dadanya yang terasa sangat  sakit dan sangat sesak sekali,..ia merasa hanya dengan pukulan ringan itulah ia dapat bernafas kembali. Kecewa, terluka dan tidak percaya…merasa dikhianati, ditikam, dan dibuang…adalah rasa-rasa yang muncul menggerogotinya hari itu.

Beberapa hari setelah peristiwa itulah ia menghubungiku dan menceritakan detail dari kondisi rumah tangganya. Aku sedih, terpukul dan merasakan apa yang dirasakannya. Namun, aku tak boleh terbawa keadaan, aku tak boleh subjektif. Aku pun membantunya menguraikan masalah yang sebenarnya menjadi akar persoalan. Dengan perbincangan itu, kami menemukan beberapa akar masalah yang cukup krusial dari hubungan pernikahan ini:

1. Jarak yang memisahkan

2. Sibuk dengan urusan masing-masing

3. Tidak punya waktu berdua untuk bermesraan layaknya sejoli yang saling jatuh cinta, dan topik pembicaraan lebih banyak mengulas permasalahan anak saja. Tidak ada waktu untuk membangun kemesraan

4. Emosi dan kepercayaan

Setelah menemukan akar masalah tersebut, kami pun beranjak ke solusi yang bisa dilakukan. Kebetulan sekali, 1 minggu lagi suami akan datang menemuinya ke tapanuli tengah.  Mendengar informasi itu, saya langsung  bertanya, apa yang akan kamu lakukan?. Maka sang istri dengan semangat 45 mengatakan “saya akan tanya bagaimana hubungannya dengan wanita itu, dan kalau memang cerai ya sudah cerai saja”, saya sudah tidak bisa percaya dan bisa memberikannya rasa cinta saya lagi”. Mendengar hal tersebut saya bertanya lagi “dengan kata lain kamu akan menyerah dengan pernikahan mu?, ia menjawab “ya, kami sudah tidak bisa mesra lagi, dia sudah menghianati saya”, lalu saya bertanya ” kamu benar-benar sudah melakukan yang terbaik untuk pernikahan mu? untuk suami mu? untuk anak-anakmu?” , dia pun menjawab ” iya”. Lalu saya bertanya lagi “bagimu, apa sih pernikahan? dan bagaimana seharusnya?”. dia pun menjawab panjang lebar..dan saya bertanya lagi “sudah yakin kalian berusaha mencapai pernikahan seperti itu dan mengakhirinya dengan begini? bagaimana dengan tujuan awal kalian?”. Tiba-tiba dia menangis…dan bertanya apa yang seharusnya aku lakukan? aku bingung….

aku terdiam sejenak, dan berkata kalau aku jadi kamu maka yang harus lakukan adalah:

1. aku akan menghapus pin bb itu dari hp ku dan tidak akan pernah menghubungi wanita tersebut

2. saat suamiku datang, aku akan mengajaknya kencan dan melupakan sejenak kericuhan yang terjadi

3. aku akan membangun hubunganku kembali padanya dan berusaha lebih baik lagi

4. saat santai, aku pun berkata “sayang..aku percaya padamu, jaga cinta kita ya sebagaimana Allah telah  menjaga kita dengan baik”.

5. Aku tak akan pernah menyerah, karena bagiku pernikahan ini hanya sekali dan untuk selamanya.

 

 

Leave a comment