Sudah genap 23 hari saya bertugas di Central Borneo ini, dan besok tanggal 02 Februari 2014 saya harus kembali ke Jakarta bersama 1 orang tim saya yang lainnya yang bernama Gugi. Namun karena pekerjaan sensus permukiman di site ini belum selesai, terpaksa 2 orang tim saya tinggalkan di site untuk melanjutkan sensus permukiman dan mendokumentasikan proses sensus tersebut. Sebenarnya, perasaan hati saya kurang enak meninggalkan mereka di site, tapi apa boleh buat karena saya harus segera kembali ke Jakarta. Nah, untuk mengurangi rasa bersalah saya, maka saya pun mengajak mereka untuk berjalan-jalan ke kota palangkaraya agar mereka bisa kembali fresh dan siap melanjutkan tugas di site ini (central borneo).
Adapun itenary kami kali ini adalah :
- Kuliner, menikmati suasana malam di Palangkaraya dan mendengar live music di hotel Aquarius.
- Menikmati istirahat di hotel aquarius.
- Melakukan susur sungai Kahayan (akan saya bahas tersendiri)
- Belanja oleh-oleh di Jalan Batam, pusat souvenir di Palangkaraya.
Kami berangkat dari Tehang pukul 15.00 wib dan diperkirakan akan sampai ke Palangkaraya jam 19.00 WIB. Pada saat tiba di persimpangan empat dalam perjalanan meninggalkan Tehang estate, kami pun mencoba mengabadikannya sebagai “pengingat bahwa kami pernah 23 hari di Tehang ini bersama menjalani suasana kebun sawit”.
kami pun tidak lupa mengabadikan si innova, mobil yang kami rental selama 1 bulan, yang menemani kami menyusuri setiap sudut dari kebun-kebun dan perumahan yang ada di beberapa lokasi seperti tehang, barunang miri, tanjung panjang, plantaran, parenggena, kabuau, serta lokasi lainnya.
Kuliner malam hari di Palangkaraya.
Waktu sudah menunjukkan jam 19 malam, dan itu artinya makan malam….hihih…kita pun akhirnya memutuskan cari makan dulu sebelum check in ke Hotel. Setelah mutar-mutar kota Palangkaraya akhirnya kita menemukan tempat makan yang cukup menarik perhatian, yaitu warung tenda yang saling berjejer sepanjang jalan, baik di sisi kanan maupun sisi kiri jalan. Warung-warung tenda ini tampaknya hanya beroperasi di malam hari saja, karena pada saat siang hari kita tidak akan menemukan jejak warung-warung itu.
Mobil-mobil mewah dan motor terlihat parkir secara rapih di sepanjang jalan yang menandakan bahwa pengunjung di tempat ini sangatlah ramai dan banyak. Tidak hanya ramai pengunjung, namun jenis makanan yang disajikan juga cukup bervariasi, mulai dari seafood, sate rusa, sate kambing, jagung bakar dan pisang bakar, bubur kacang hijau dan menu-menu lainnya.
Keliling kota dengan sepeda bercahaya
Setelah kenyang makan, saatnya kita menikmati keliling kota palangkaraya ini dengan sepeda bercahaya. Adapun biaya yang dibutuhkan untuk menaiki sepeda bercahaya tersebut adalah Rp. 35.000 per satu jam tanpa pendayuh dan Rp.50.000 per jam dengan pendayuh.
Kami malam ini memutuskan untuk naik tanpa pendayuh saja, yang artinya kami ber-empat akan mendayuh sepeda ini sehingga sepeda ini bisa jalan (manual *red). Adapun yang menjadi sang supir dalam dayuh sepeda bercahaya ini adalah si Dicky (yang selalu mengatakan semua gampang dan sudah selesai..hihih).
Perjalanan awalnya sangat seru sekali dan penuh energi, namun lama-lama, mulai pada mengeluh karena kelelahan, paha mulai keram dan kaki mulai pegal…hahahha….ternyata mendayuh sepeda itu lumayan menguras energi, apalagi jika di awal energinya sudah diboros-borosin dengan ngebut-ngebut-an ampe-ampe itu sepeda rantainya copot 3 kali.
Kesan:….keliling kota palangkaraya dengan sepeda ini sangat menarik. Selain banyak yang bisa dipandang namun kami pun bisa menjadi pemandangan…(maklum, sepeda ini tampaknya belum cukup familiar dan banyak seperti di kota jogya). Sepanjang kami jalan, banyak yang meliha, memfoto atau menunjuk-nunjuk kami. Mobil-mobil pun dengan sabar menunggu kami lewat. Bahkan sekumpulan remaja yang nongrong di pinggir jalan dengan mobil-mobil mewah cukup terkesima melihat kami berjalan-jalan dengan sepeda bercahaya ini…kota ini memang sangat bersahabat #efek bahagia liburan setelah mendekam di kebun sawit yang jauh dari mana-mana
Hotel Aquarius dan Live Music-nya
Karena agenda kali ini adalah untuk kembali fresh, maka kami memilih hotel yang paling terkenal di Palangkaraya ini yaitu hotel Aquarius. Harga hotelnya ternyata tidak terlalu mahal, masih cukup lah dengan budget yang ada. Kita cukup merogoh kocek sebesar Rp. 495.000 sudah dapat kamar deluxe dengan king size. Ini nih penampakan kamarnya mas bro…
Setelah check in, kita segera bersih-bersih alias mandi dan ganti pakaian untuk turun ke club/bar yang menyediakan Live Music. Untuk masuk ke bar ini kita tidak perlu bayar karena sudah dapat free-pass. Yah, lumayanlah…nama bar ini adalah Vino Club.
Sesampainya di dalam bar, terlihat sebuah band sedang perform dengan gaya yang sangat menarik. Mereka semua menggunakan baju hitam. Sang pria vocalis melantunkan lagu-lagu dengan sangat attractive yang membuat penonton terdorong untuk ikut bernyanyi bersama. Kebetulan sekali, lagu-lagu yang didendangkan malam itu adalah lagu-lagu kesukaan saya seperti lagu it’s my life dari bon jovi, we found a love in a hopeless place nya rihanna dan banyak lagi lagu-lagu yang menarik lainnya. Kami menikmati music di bar ini sembari meminum sprite dan coca cola yang harga satu botolnya adalah 30 ribu rupiah. Hehehehe……what a beautiful night….#alay, maklum baru pertama kali masuk bar…hihihih
Kesan terhadap hotel : Hotel Aquarius ini cukup bagus memang, bersih dan pelayanannya cukup ramah dan tulus. Salain itu, dapat free pass nonton live music di bar juga. Hanya saja, ada satu peristiwa yang membuat saya memberikan penilaian kurang terhadap pelayanan hotel ini. Pagi hari tanggal 2 Februari 2012 sehabis mandi, saya sempat kesal gara-gara hair dryer yang dijanjikan oleh hotel tidak kunjung datang bahkan sampai rambut saya kembali kering dan perut saya keroncongan. Setelah menunggu 1 jam-an, saya pun mencoba menelephon ke extention 6, “mba, kalau memang hair dryer nya gak ada, ya sudah dicancel saja biar saya pergi sarapan saja ke bawah”, namun perempuan yang mengangkat telephon saya menjawab “hair dyernya sudah dalam perjalanan menuju kamar ibu, silahkan ditunggu”. Lalu saya pun menunggu sembari perut keroncongan karena khawatir selisih jalan, lalu 10 menit kemudian telephon berdering dan terdengar suara pria berkata “ bu, mohon maaf karena kita sudah mencari-cari hair dryernya dan ternyata tidak ada maka kami mohon maaf”. Lantas saya pun mulai emosi dan berkata “loh, tadi katanya sudah on the way”, maka dia menjawab,”tapi hair dryernya tidak ada bu, gak kebagian ibunya”. Hoohoho….untung saja saya kesini dalam rangka relaks jadi saya pun tidak memperpanjang persoalan. Tapi kalau dihitung-hitung saya sudah menunggu si hair dryer selama 1jam 30 menit …hahha..dan hasilnya “ibu tidak kebagian hair dryer”



















Leave a comment