Selama 1 minggu di tengah kebun sawit yang cukup jauh dari peradaban dengan jatah makan yang rutin (nasi putih dan lauk pauk seadanya) membuat kami rindu akan sesuatu yang berbeda jajanan ringan/snack/bakso/soto dan sejenisnya. Apapun itu, sepanjang itu jajanan pasti menjadi sangat lezat dan menggiurkan di pandang mata dan dirasa jiwa…halah alay…

Tot…tot…hanya satu kali saja bunyi itu terdengar. Teman saya yang mendengar bunyi itu tiba-tiba berdiri dan dengan energi yang sangat optimal ia pun segera berlari keluar melalui pintu depan mengejar abang-abang yang membunyikan tot..tot itu…. Namun usahanya tidak berhasil, sehingga ia tiba-tiba berlari ke rumah menuju pintu belakang masih berusaha mengejar abang-abang tersebut, sambil berteriak Pentol…, namun sangat disayangkan si penjual pentol berlari dengan sangat kencang dengan motornya tanpa menoleh pada teman saya (si gugi) yang sudah sangat berusaha memanggilnya…..Dan dengan lunglai akhirnya si Gugi pun berjalan ke dalam mess dan mengatakan “yah…pentol nya pergi..”.
Melihat kekecewaan yang termat dalam itu, saya jadi penasaran apa sih pentol ini? Maklumlah saya belum pernah mendengar atau melihat pentol sepanjang usia saya yang terbilang muda ini (30-an bo…hiihi..). Saya pun kemudian menanyakannya kepada gugi “apa sih pentol itu?”, dan dengan wajah penuh antusias sang gugi pun berkata “itu makanan yang sangat enak, anak-anak kalau tugas ke kebun pasti selalu jajan pentol, sayang pentolnya sudah jalan.”…. Oh..begitu rupanya…ternyata pentol ini adalah sesuatu yang sangat happening kalau lagi dinas ke site begini..…Sesuatu yang memiliki magis  tertentu yang membuat wajah-wajah yang menikmatinya menjadi tampak bahagia…yah itulah si pentol, dalam pikiran saya

Hari berganti hari, si pentol tak pernah nongol lagi. Tapi….tunggu dulu….arjuna cinta tiba-tiba menyasarkan panahnya pada pedagang pentol untuk melaju ke dekat kami…. Dan .. eng .. ing..eng…pada saat kami berada di atas jalanan yang terbuat dari tanah liat di antara pepohonan sawit yang sangat banyak, tiba-tiba si abang pedagang pentol lewat. Dan kali ini, kami tidak akan melewatkan abang pentol….. kami segera mengklakson motor si abang pentol tersebut dan keluar dari mobil untuk menyamperin si abang pentol agar kami bisa mencicipi pentol yang sangat happening sekali di kalangan anak-anak project yang kebagian tugas ke site/kebun begini…

Dan…akhirnya saya pun mencicipi “pentol”  yang sangat happening ini. Apa sih sebenarnya PENTOL ini? check this out ya……

Pentol is a type of snack which can be found in the middle of know where…hehehe….- it’s a type of meatballs with flour, usually given with peanut sauce, or tomate sauce, soy sauce and sambal.

 

Kalau ditanya apa unik dan khasnya dari makanan ini, maka saya akan melihatnya begini :

1. Pentol adalah snack/makanan ringan yang merupakan hasil modifikasi bakso.

Kalau bakso, pasti sudah tidak asing ya bagi kita. Biasanya kalau kita makan bakso di warung bakso, pasti bakso akan disajikan dengan kuah, mie, dan berbagai aksesorisnya. Nah, sedikit berbeda dengan si pentol ini.  Yang berbeda adalah masalah penyajiannya. Pentol dilahirkan untuk kamu-kamu yang cinta akan kepraktisan. Loh..kenapa begitu? ya…karena penyajian makanan yang satu ini memang dibuat sepraktis mungkin.  Hanya denganditusuk dan mencelupkan ke jenis-jenis saos yang disiapkan, kita sudah bisa menikmatinya dan menjadikannya sebagai salah satu pilihan jajanan sederhana yang tidak perlu menguras dompet tebal-tebal…

2. Makanan yang mampu dijangkau semua kalangan.

Yah…makanan ini pada prinsipnya sangat murah, dan biasanya keberadaannya bukanlah di restoran mahal, namun kebanyakan di sepeda motor/gerobak sehingga  hampir semua orang mampu membelinya dan memiliki kesempatan untuk membelinya. Kita tidak perlu repot-repot pergi membeli pentol, karena kebanyakan, pentol lah yang akan menghampiri kita….:)

Pentol ini bisa muncul di mana saja, tidak terduga dan terkadang tidak bisa ditebak kedatangannya. Bisa saja dia muncul tengah jalan, di pinggiran kebun, atau di tempat-tempat yang tidak umum untuk makan. Dengan demikian, maka kita pun pada akhirnya terkadang harus memakan makanan ini di pinggir jalan sambil berdiri. Seperti yang terjadi saat kami sedang di perjalanan menuju palangkaraya dari tehang berikut ini.

Image

Abang pentol yang menjajakan makanan  datang dan pergi dengan semangat membara di dalam dirinya. Demi orang-orang yang dicintainya di rumah membuat ia tidak merasa lelah walaupun harus menahan terik matahari dan blusukan ke pedalaman desa untuk menjajakan makanan ini. Ia datang tanpa ada rasa gengsi dan tanpa ada rasa malu. Ia hanya berharap agar pentol yang dijualnya laku dan bisa memberikan kebahagiaan bagi pembeli dan juga bagi dirinya dan keluarganya

 

3. Makanan penyingkir rasa gengsi.

Memang sih, beberapa kalangan akan sedikit gengsi makan pentol di pinggir jalan dengan lahapnya, tapi itu masalah mereka. Siapa peduli dengan gengsi orang-orang? Ketika kita berhasil menyingkirkan rasa gengsi kita, maka pastinya kita pun akan turut serta menikmati hidangan jajanan istimewa ini. Jadi, orang-orang yang mau memakan jajanan ini adalah orang-orang yang mampu menyingkirkan rasa gengsi mereka. Makanan ini benar-benar menempatkan kita pada posisi “rakyat” yang sama rata sama rasa.

Jika ditinjau dari rasa, pada dasarnya makanan ini tidak enak dan tidak lezat namun, ada yang istimewa dari makanan ini, yaitu ia menawarkan rasa bersama dan senyum bahagia ketika kita berhasil memegang tusukannya dan memasukkan nya ke dalam mulut kita…

 

 

Leave a comment