Inilah untungnya kalau bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit, kita menjadi memiliki kesempatan untuk bisa mengunjungi Bumi Indonesia yang sangat elok dan luas ini. Kali ini, saya mau cerita mengenai perjalanan saya di Banjarmasin.
Perjalanan dimulai dari Tehang tepat ketika tugas saya untuk melakukan sosialisasi sensus permukiman telah selesai (selama 2 minggu) dan harus melanjutkan perjalanan ke Kintapura (1 Minggu). Awalnya saya berencana naik pesawat ke Banjar lalu dari Banjar langsung ke Kintap, jadi cepat dan tidak perlu bercapek-capek di jalanan. Namun setelah dipikir matang-matang, “kalau saya harus langsung ke Kintapura, ya kok sayang banget ya….…secara kan ada hari libur di tengah-tengah perjalanan tugas (Sabtu-Minggu), jadi mending saya jalan-jalan saja dulu”, pikir saya…dan akhirnya saya pun merencanakan untuk liburan 2 hari di Banjarmasin. Saya langsung menghubungi beberapa teman yang saya kenal di Banjarmasin untuk menemani saya berjalan-jalan. Tapi, ngomong-ngomong ya…, Ini bukan pertama kali saya dating berkunjung ke kota Banjarmasin, namun baru pada kesempatan kali ini saja loh saya bisa dan punya waktu untuk melakukan eksplorasi terhadap kota ini, karena selama ini…saya ke Banjarmasin hanya dalam rangka tugas saja. Jadi…….I am so exciting lah bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan eksplorasi di kota ini…
PERJALANAN TEHANG – BANJARMASIN VIA PALANGKARAYA..
Eng…Ing…eng…. Saya segera menyusun rute dan schedule perjalanan. Adapun rute perjalanan saya yaitu, berangkaat Tehang jalan Darat lewat Palangkaraya, singgah sebentar di Palangkaraya dan keesokan paginya langsung dilanjutkan ke Banjarmasin. Saya punya waktu 2 hari untuk jalan-jalan yaitu hari Sabtu & Minggu. Lalu sorenya, saya berangkat ke kebun yaitu Kintapura untuk melanjutkan tugas Negara saya….
Total perjalanan darat yang saya lakukan untuk bisa sampai ke Kota Banjar adalah 10 jam, 4-5 jam sampai Palangkaraya dan dilanjutkan 4-5 jam ke Banjarmasin.
Berikut ini beberapa pemandangan sepanjang perjalanan….
Selama di perjalanan, saya cukup tertegun melihat kota ini, karena jauh sekali dari perkiraan saya….saya berpikir akan melewati hutan belantara dan pohon-pohon yang sangat rindang…tapi ternyata…yang saya lihat hanyalah pohon-pohon seadanya saja dan sama sekali tidak seperti hutan, tidak rindang dan tidak mirip dengan julukan “paru-paru Indonesia”…….Kalimantan kini tampak semakin gersang…hmmm….yang terpampang adalah pemandangan pohon-pohon yang mulai gundul daunnya, pohon yang tumbang dan pohon-pohon yang terbakar. Di sepanjang jalan juga terlihat sudah banyak perataan tanah untuk pembangunan rumah / permukiman.
Setelah melewati 3 jam perjalanan memandang kondisi pepohonan di kanan dan kiri, perut pun terasa keroncongan, dan segera kami mencari tempat makan yang tampak cukup menjanjikan..dan inilah tempat yang kami pilih…
For your information: makanannya kurang rekomendasi, kayaknya mereka tidak siap menerima tamu di jam tersebut. Tapi,…berhubung karena susah cari tempat makan, di antara tempat makan yang kami jumpai, ini yang paling bersih dan menjanjikan…
Setelah kenyang, perjalanan pun dilanjutkan…dan tak terasa tibalah di Kota Palangkaraya. Sesampai di Palangkaraya, saya dan kedua teman saya yang ada di foto atas itu pun berpisah. Mereka memutuskan ke hotel, sedangkan saya memutuskan untuk langsung ke Masjid dan langsung melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin
Foto kurang lebih 30 menit menjelang tiba di Palangkaraya..
OTW BANJARMASIN….
Dag…dig…ser…itu adalah perasaan saya selama perjalanan menuju kota Banjar. Bibir saya komat-kamit membacakan doa meminta keselamatan sampai tujuan, karena jujur saja, saya sangat takut…takut diculik cin..(halah…), maklumlah…selama di perjalanan saya hanya sendirian bersama supir rental yang baru saja saya temui saat itu di Palangkaraya (Saya memutuskan untuk rental mobil ke Banjarmasin sendirian pada malam hari cin…)…saat itu jam sudah menunjukkan jam.20.00 dan perjalanan baru mau dimulai…
Selama perjalanan, saya hanya melihat kegelapan…dan akhirnya saya putuskan tidur saja di sepanjang jalan. *teman-teman udah ngingatin padahal mending besok pagi aja jalan ke Banjarmasin kalau sendirian, tapi ya mau gimana…namanya juga bandel…
Tiba di Banjarmasin, saya segera mencari mes perusahaan…dan lumayan juga ternyata cin..jauh dan sulit untuk mendapatkannya…tapi, namanya perjuangan ya…tetap tidak ada yang sia-sia…
Ini nih wujud mes tempat saya menginap di Banjarmasin…
DAY 1.
SERAMBI MEKKAH.
Kalau ingat kisah sejarah jaman sekolah dulu, pasti udah pada tahu kan kalau Kalsel -Banjarmasin itu terkenal sekali dengan kota yang sangat kental dengan nuansa keamaan dan syiarnya, yang menelurkan banyak penyiar islam..ya..ini kotanya…Dan saya penasaran melihat seperti apa sebenarnya kota SERAMBI MEKKAH ITU…
Check This Out..
Masjid ini menjadi salah satu ikon yang menjadi ciri khasnya. Tapi selama saya di masjid ini, masjid ini terlihat sunyi…para santri juga tidak banyak yang berdatangan dan memakmurkan masjid ini. apakah mungkin mereka sedang belajar di kelas? atau mungkin sedang ada acara lain ya? tapi, nuansa disini tidak seperti nuansa di gontor..dekat kampung saya…nuansanya sangat kental dan membuat kita benar-benar berasa sedang di kota santri…
MARTAPURA
Di Martapura ini kita para wanita bisa gila (*lebay) karena banyak sekali kain dan aksesoris yang indah…indah…dan indah..Coba duitnya gak berseri..pasti udah tak borong semua berlian yang ada di toko-toko ini..hihihi…
KAIN SASIRANGAN; KAIN KHAS BANJARMASIN
Selaku pecinta batik dan kain tradisional, tentu hal yang tidak boleh saya lewatkan adalah mengenali dan mengunjungi penjual kain khas daerah tempat yang saya kunjungi. Kali ini, karena saya berkunjungnya adalah ke Banjar, maka kain yang akan saya cari adalah kain sasirangan.
Dahulu, pertama kali mengetahui kain ini adalah dari seorang kakak yang bernama Nopi. Dia memberikan saya kain sasirangan ungu dari bahan sutra dengan kotak berwarna merah yang tulisannya SAHABAT. Dan setelah saya ke Banjar masin barulah saya tahu kalau SAHABAT itu adalah toko yang memang sudah dikenal meluas di Banjarmasin, dan cabang toko serta koleksi motif kainnya juga cukup banyak.
Konon katanya, dahulu Kain Sasirangan adalah kain yang dipercaya dapat menyembuhkan orang-orang yang sedang sakit. Selain itu, kain khas Banjar ini juga merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Baik untuk rakyat, maupun keturunan bangsawannya. Motif kain sasirangan, sebenarnya mirip dengan kain Jumputan. Hanya saja, sasirangan mempunyai motif tradisional dan ciri yang sangat khas. Pada saat seseorang memakai kain ini, kita bisa langsung mengenali karena kekhasan yang ditawarkannya.
Motif-motif tersebut mempunyai arti dan makna tersendiri. Sehingga, dalam pembuatannya, sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya. Oleh karena itu, orang Banjar sering kali menyebut Sasirangan sebagai kain Pamintan yang artinya permintaan.
Berikut beberpa kain sasirangan yang telah saya jahit dan jadikan baju. Cakep-cakep kan??




















Leave a comment