Sore itu, seorang GM berkata kepada saya bahwa dia tidak membutuhkan seorang coach karena dia tidak memiliki masalah dan tidak membutuhkan bimbingan karena Ia sudah puluhan tahun mengerjakan pekerjaan ini. Di antara gusarnya beliau, saya pun tersenyum dan mendengarkan dengan baik tentang keluh kesahnya. Setelah Ia menceritakan perjalanan karirnya, saya memiliki kesempatan untuk menanyakan apakah Ia memiliki suatu Goal/tujuan tertentu yang ingin dicapainya yang dapat membuat Ia menjadi seorang GM yang lebih efektif? Dan kemudian Ia menjawabnya dan kamipun akhirnya membicarakan hal tersebut dan mendiskusikan tentang action plan yang perlu dilakukannya agar goalnya tersebut bisa tercapai. Di akhir diskusi dia pun mengatakan “wah, Tin..terima kasih sudah ngobrol dengan saya dan saya akhirnya mendapatkan insight dan menjadi lebih jelas apa yang perlu saya lakukan untuk mencapai goals saya. Emang lah ya…kalau ngobrol ama Psikolog itu emang beda. (fyi: saya seorang psikolog program magister profesi PIO).
Mendengar perkataan Bapak GM tersebut, saya tersenyum kecil dan berkata “Apa yang baru saja kita lakukan adalah coaching Pak”. Dia mengernyitkan keningnya dan bertanya “coaching???”, dan saya menganggukkan kepala dan mulai menjelaskan tentang coaching dan apa yang membedakan antara coaching dengan pendekatan yang lain. Setelah mendengar penjelasan saya, Ia tertawa “wah, kalau begitu, asik juga ya di coaching. Kalau begitu, HR di tempat saya bekerja bagus juga ya karena memberikan kesempatan kepada karyawan untuk di coaching”.
Memang, tidak sedikit dari kita yang kemudian bingung membedakan antara coaching dan mentoring. Dan tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa coaching adalah proses untuk karyawan bermasalah atau karyawan yang under performance karena praktiknya di banyak perusahaan coaching baru akan dilakukan untuk karyawan yang memang dianggap “bermasalah”. Hal inilah yang membuat coaching menjadi tidak disukai. Sebagai contoh: di tempat saya bekerja sebelumnya (waktu itu saya belum belajar dan certified coaching), katakan PT X, setiap karyawan yang diproyeksikan akan di PHK maka wajib di coaching (baca: diingatkan) dan atasan wajib mengisi form coaching sebagai bukti bahwa karyawan tersebut sudah dinasehati dan dikasih kesempatan. Tujuan coaching tersebut bukanlah untuk menfasilitasi proses org yg di coaching untuk mencapai tujuan melainkan sebagai proses peringatan, dan inilah yang membuat munculnya anggapan bahwa setiap ada karyawan yang di coaching maka sebentar lagi pasti akan PHK.
Untuk meluruskan pemahaman ini, mari kita coba pelajari lebih lanjut apa sih coaching itu? Dan apa bedanya dengan mentoring, counseling, training dan consulting ?
Coaching
Dalam sebuah sesi coaching ada orang yang bertugas sebagai coach (orang yang menfasilitasi proses) dan ada pula yang berperan sebagai coachee (orang yang dicoaching/difasilitasi proses untuk mencapai tujuan). Seorang coach bertugas untuk menfasilitasi proses mencapai tujuan/goals yang ingin dicapai oleh coachee dengan cara mengajukan powerful question kepada coacheenya. Disinilah titik kekhasan dari pendekatan coaching, dimana Ia percaya betul bahwa setiap orang memiliki sumber daya yang ia butuhkan dan solusi sebenarnya ada pada setiap orang itu sendiri.
Definisi coaching menurut ICF (international Coach Federation) bahwa coaching adalah “hubungan kemitraan dengan individu melalui proses kreaktif yang ditujukan untuk memaksimalkan potensi personal dan profesional dirinya” (sources: disadur waktu ikut pelatihan CPC di Coaching Indonesia)
Seorang coach yang sudah certified akan melaksanakan proses coaching dengan cara bertanya dan menggali data dari coachee. Dia bahkan sama sekali tidak akan memberikan saran atau masukan.
Dengan pertanyaan yang diajukan akan mampu mengajak coachee untuk berpikir, menstrukturkan pemikiran mereka dan mendapatkan insight tentang pengembangan/action plan yang perlu dilakukannya untuk unleash potensi terbaiknya/mencapai tujuan yang diharapkan oleh coachee. Semua ide dan pemikiran berasal dari si coachee.
Jadi, pada saat seseorang datang kepada seorang coach dengan masalah yang dihadapinya dan dia minta untuk diajari, dinasehati, dibimbing melakukan langkah-langkah pekerjaan yang tepat atau di-therapy , maka sesungguhnya orang tersebut sudah salah tempat. Ia tidak seharusnya mendatangi seorang coach. Yang dibutuhkannya boleh jadi seorang counselor, mentor, trainer atau therapist.
Mentoring
Berbeda dengan coaching, mentoring adalah proses berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seorang yang sudah memiliki pengalaman kepada seseorang yang yang ingin belajar di bidang tersebut. Dengan demikian maka seorang mentor adalah seseorang yang ahli di bidang yang sedang dibahas sehingga bisa memberikan tips dan saran serta menuntun menteenya untuk bisa mempelajari sesuatu dengan lebih cepat dan tidak melakukan kesalahan yang biasa terjadi. Inilah poin yang sangat membedakan antara coaching dan mentoring. Di dalam coaching, seorang coach tidak perlu ahli di bidang spesifik teknis pekerjaan karena Ia tidak akan menuntun ataupun memberikan tips dan saran kepada coacheenya..
Consulting
Saat kita mengundang Konsultan ke perusahaan tempat kita bekerja, maka kita pasti memiliki sebuah pengharapan bahwa mereka adalah pakar ataupun ahli yang sudah memiliki portfolio atau kisah sukses dalam membantu perusahaan2 untuk memecahkan masalah-masalah yang sama. Di sini kata kuncinya adalah pemecahan masalah (problem solving).
Konsultan umumnya akan mengumpulkan data-data yang ada dan kemudian akan merancang penyelesaian ataupun program yang tepat dan merekapun akan mengerjakan keseluruhan pekerjaannya untuk kita. Di akhir, kita akan mendapatkan rekomendasi dan laporan yang sangat tebal. Kita bahkan tidak harus mengetahui bagaimana cara mereka melakukannya secara detail.
Contoh: Pada saat akan dilakukan restrukturisasi di perusahaan dan kita bingung untuk menentukan design yang terbaik, kitapun akan mengundang konsultan OD untuk melakukan pekerjaan ini. Dia kemudian akan mengerjakan semua, melakukan interview, assessment dan menyusun desain struktur organisasi yang baru sesuai hasil yang sudah diolahnya. Kita hanya akan duduk santai dan tiba-tiba saja sudah ada laporan akhir sebundel tebal terkait desain yang kita butuhkan.
Training
Seorang trainer bertugas untuk mendelivery materi atau melakukan transfer pengetahuan atau skill tertentu kepada peserta trainingnya untuk tujuan menutup gap kompetensi atau untuk proses pemenuhan penguasaan skill/kemampuan tertentu. Walaupun saat ini kita mengenal adanya pendekatan trainee-center atau pendekatan experiential learning dimana karyawan mengalami sendiri proses tersebut, bukan berarti tidak ada transfer knowledge dari trainer kepada trainee.
Fokus dalam sebuah training (sering juga disebut workshop) adalah peserta melakukan praktek. Sebuah skill baru bisa dikusai jika dipraktekkan dan diulang – ulang untuk semakin mengasah kemampuan peserta. Jika kita melihat kepada hasil penelitian, sesungguhnya training hanya memberikan dampak yang sangat kecil kepada pertumbuhan produktivitas karyawan. Training baru akan berdampak apabila dipadu padankan dengan coaching dan on the job training / related working. Hal ini sejalan dengan learning model 70,20 dan 10.

Counseling
Nah..apalagi ini counseling? Counseling adalah hal yang berbeda dengan Coaching. Counseling biasanya banyak berbicara dengan Problem, dimana seseorang yang belum bisa bergerak untuk maju karena ia masih terhambat oleh masalah-masalah di masa lalunya, sehingga dilakukanlah proses Counseling untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Dan umumnya, counselee akan diajak untuk kembali ke masa lalu dan melihat permasalahan tersebut.
Kalau kita lihat lebih spesifik, ada yang disebut dengan counseling psychologist. Berikut kutipan yang saya ambil dari APA
Counseling psychology addresses the emotional, social, work, school and physical health concerns people may have at different stages in their lives, focusing on typical life stresses and more severe issues with which people may struggle as individuals and as a part of families, groups and organizations. Counseling psychologists help people with physical, emotional and mental health issues improve their sense of well‐being, alleviate feelings of distress and resolve crises. (http://www.apa.org/ed/graduate/specialize/counseling.aspx)

Leave a comment