30 November 2019, Saya diundang oleh Best Practices Sharing Forum (BPSF) untuk sharing session di hadapan teman2 HR Practitioner dan Alumni CHRP di Kampus UNIKA Atmajaya.  Adapun tema yang saya sharing adalah “Learning Inclusivity & Technology”.

Untuk teman2 yang kebetulan belum berkesempatan hadir pada event tersebut, saya akan share melalui blog ini.

Sebelumnya, apakah teman2 yang berkecimpung di Learning & Department pernah mendengar learning inclusivity? apa sih inclusivity itu?

Berdasarkan kutipan dari beberapa kamus, dapat dilihat bahwa inclusivity adalah:

Jadi, dapat disimpulkan bahwa inclusivity adalah suatu kualitas dimana kita melibatkan semua orang dan tidak melakukan pembedaan perlakuan kepada orang-orang berdasarkan aspek2 tertentu seperti gender, ras, agama, usia dan lainnya. Sedangkan learning inclusivity adalah program membangun dan me-maintain lingkungan pembejalaran/learning environment dimana semua karyawan tanpa terkecuali benar-benar bisa terlibat,  diberikan kesempatan akses yang sama dan menjadi bagian dari program learning yang ada. Setiap orang dapat menjadi narasumber, menyampaikan ide, perspektif dan ways of thinking nya melalui forum-forum pembejalaran yang ada.

Dalam penerapan Learning inclusivity, maka salah satu enabler yang bisa kita manfaatkan adalah Technology.

Berbicara tentang technology digital dalam learning tidak sedikit perusahaan yang berlomba-lomba untuk menerapkan Learning Management System, 74% learning technology yang dideploy adalam LMS. Tapi tahukah Anda bahwa ternyata pada saat dilakukan penelitian terhadap kepuasan learning technology, ternyata score tingkat kepuasan terendah adalah LSM itu sendiri, dengan skore 3.10 sebagaimana terlihat pada gambar table di bawah ini:

Something wrongDengan demikian maka, menjadi tidak aneh, jika adoption rate untuk LMS tidak begitu tinggi dibandingkan dengan content platform, virtual classroom, simulation digital dan Gamification.

Daniel Newman, CMO Network dalam http://www.forbes.com menyatakan bahwa terdapat 6 top digital transformation trend dalam dunia Pendidikan/Education, yaitu:

https___blogs-images.forbes.com_danielnewman_files_2017_07_Top_6_Digital_Transformation_Trends_In_Education_170717-01.jpg

Di tempat saya bekerja, saat ini kita (L&D) sedang mengembangkan dan menerapkan konsep gamification, personalize training dan artificial intelligence bekerjasama dengan salah satu vendor International yang berasal dari India, yang kita sebut dengan Mylearning.

My Learning, adalah suatu platform learning dengan Artificial Intelligence (AI)-Powered Knowledge Cloud yang men-drive materi2 learning dari multi resources, dengan konsep Unified Discovery, Knowledge Management and Personalized Learning. My Learning merupakan perpaduan antara LMS dengan LXP, yang mengutamakan learning experience. 

Untuk menjalankan proses ini, ada role-role yang perlu dipersiapkan, yaitu:

Role in Digital

Pada kenyataannya, pada saat platform atau technology digital learning sudah dikembangkan, role sudah di assign, yang menjadi persoalan besarnya adalah tentang apakah people yang menjalankan role-role tersebut benar2 mau menjalankannya. Jadi, tidak hanya teknologi ataupun proses yang perlu diperhatikan namun orangnya juga perlu dipersiapkan.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, untuk memastikan Digital Transformation Learning (DTL) berjalan mulus maka ada 3 komponen yang benar-benar harus dipersiapkan dan diperhatikan yaitu: People, Process dan Technology.

Digital Tranformation Learning.PNG

Pada saat melakukan Digital Transformation Learning, maka perlu diperhatikan juga apakah penerapan technologynya sudah menggunakan prinsip “Digital Mindset“, apakah orang-orangnya juga sudah memiliki “Digital Mindset” dan apakah prosesnya sudah sesuai dengan kaidah “Digital Mindset“?

Digital Mindset” adalah seperangkat prinsip dan nilai serta kualitas yang perlu dimiliki pada saat melakukan transformasi digital. Berikut ini adalah prinsip dan nilai-nilai “Digital Mindset“:

  1. Simple = saat mengembangkan technology digital dalam learning, pastikan technology tersebut sederhana, user friendly dan mudah dioperasikan. Jika technology tersebut ternyata justru memperumit, memperpanjang proses, menambah man power untuk mengoperasikannya, maka technology yang kita kembangkan bukanlah jawaban. Jangan sampai technology yang dikembangkan sama seperti becandaan teman2 HR yaitu Setan Aja Pusing..heheh…
  2. Speed = technology seharusnya bisa membuat proses menjadi lebih cepat.  Nilai kecepatan ini dapat memotong birokrasi yang tidak penting, jarak yang jauh sehingga proses bisa dilakukan dimana saja, mis: untuk pendaftaran training, kalau based on paper based biasanya nunggu atasan di kantor untuk tanda tangan maka sekarang bisa melalui online dengan waktu hanya beberapa detik untuk approvalnya dan tidak perlu menunggu atasan kembali ke kantor dulu.
  3. Transparent = keterbukaan menjadi salah satu nilai yang ada dalam digital mindset. Dimana technology tersebut menyajikan informasi yang sama yang bisa dinikmati orang Bersama. Pada saat yang sama, penerima informasi membutuhkan keterbukaan untuk juga bisa menerima informasi yang ada. Sebagai contoh: Yearly Training calendar yang ada di learning digital platform bisa dilihat oleh siapa saja yang ada di dalam organisasi.

Digital mindset ini tidak hanya dibutuhkan pada saat proses pengembangan atau penerapan technology digital maupun saat menggunakan teknologi saja, namun juga dibutuhkan pada saat akan melakukan pembiasaan/ transformasi digital ke arah yang dikehendaki dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dengan pola pikir digital, memahami kekuatan teknologi untuk mendemokratisasi dan mempercepat setiap bentuk interaksi dan tindakan.

Selain memiliki digital mindset, adapun pola pikir lain yang perlu dimiliki untuk bisa dengan mudah mengikuti transformasi digital adalah pola pikir yang disebut “Growth Mindset“.

Growth Mindset dikembangkan oleh Stanford Psychologist Professor Carol Dweck melalui penelitian multi-decade program yang dilakukannya. Adapun ringkasan penelitian dari Professor Carol Dweck adalah:

Individu yang percaya bakat mereka dapat dikembangkan (melalui kerja keras, strategi yang baik, dan masukan dari orang lain) memiliki pola pikir pertumbuhan (Growth Midnset) yang memberdayakan mereka. Achievement atau prestasi yang mereka capai cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola pikir yang tetap (Fixed Mindset).Ketika perusahaan merangkul mereka yang memiliki Growth Mindset, karyawan mereka melaporkan bahwa merasa jauh lebih berdaya dan berkomitmen dan terdorong untuk senantiasa meningkatkan prestasi mereka.

Berbeda dengan orang yang memiliki Fixed Mindset, mereka adalah orang percaya bahwa kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan atau bakat mereka, bersifat menetap dan sudah dari sananya, tidak bisa berkembang lagi. Mereka menghabiskan waktu mereka mendokumentasikan kecerdasan atau bakat mereka daripada mengembangkanya.

Fixed and Growth Mindset

Features of the fixed vs growth mindse, Picture: Emma Fazzino, October 2017

Ketika karyawan kita berisi orang2 yang memiliki Growth Mindset maka akan sangat mudah bagi kita untuk bisa mengajak mereka berlari dan bertransformasi ke arah yang diinginkan. Namun, jika ternyata karyawan kita lebih banyak memiliki Fixed Mindset yang justru mempertanyakan mengapa perlu ada perubahan sementara saat ini saja sudah baik-baik, dan yang tidak terbuka terhadap tantangan dan menganggap bakat itu adalah dibawa lahir, maka sudah barang tentu akan lebih sulit untuk mengajak mereka ber-transformasi.

Untuk mendukung proses diseminasi digital learning culture yang ingin dibangun, maka sebaiknya didukung dengan psysical environment yang tepat, sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Collaborative Digital Culture.PNG

Demikian yang bisa saya sharing pada article learning inclusivity dan technology ini. Jika ada yang ingin dibahas dan didiskusikan terkait hal ini, silahkan tinggalkan jejak di komen. Terima kasih.

Attachment: Foto2 sesi sharing learning inclusivity by me, 30 November 2019.

 

 

 

 

 

 

Leave a comment