“Even the darkest night will end and the sun will rise “- victor Hugo, Les Miserables.

Optimism adalah salah satu corenya dari resilience, yaitu daya tahan, daya lenting atau biasa juga dikenal dengan kemampuan untuk bounce back. Resilience adalah salah satu model pertama yang di-model oleh Michaell Hall untuk menciptakan Meta State yang merupakan flagship nya Neurosemantics.

Sebagian dari kita mungkin ada yang merasa bahwa dirinya adalah orang yang optimis, ada yang realis dan ada pula yang pesimis. Yang mana pun kita, ini bukan soal benar dan salah. Namun, ini adalah lebih kepada tentang cara befikir kita. Orang yang optimis boleh jadi terkadang muncul pesimisnya, dan demikian juga yang pesimis, boleh jadi muncul rasa optimis ataupun realistisnya. Setiap tipe ini ada saja nilai positifnya.

Optimis vs Positive Thinking.

Perlu diingat bahwa optimis itu tidak sama dengan positive thinking. Ketika kita selalu positive thinking sebenarnya agak bahaya juga. Misalnya: Saat sekarang dimana kita sedang  PSBB dan stay di rumah aja, tiba2 kita harus keluar karena stock makanan habis. Saat di luar, kita bertemu dengan seorang pria sedang mengayun-ayunkan golok dan celuritnya dan berjalan ke arah kita. Kalau kita positive thinking, bisa dibayankan apa yang terjadi…akan bahaya juga ketika menghadapi hal semacam ini.

Optimisme itu adalah cara kita menjelaskan sesuatu yang ada dalam pikiran kita. Apakah kita menjelaskan dengan cara yang optimis atau pesimis. Ataukah kita menjelaskannya sesuai realita, apa adanya sehingga kita menjadi orang2 yang realistis.

Optimis vs State

Optimisme adalah state. State itu adalah suatu kondisi mental, emotional, dan fisiologi tubuh. Karena optimisme adalah sebuah state, sama seperti ketika kita belajar, ada state senang, ada state curious, ada state focus, ada state ngantuk. Jadi karena bentuk optimisme itu adalah sebuah state, maka dari itu, optimisme bisa kita coach. Dengan kita meng-coach diri kita untuk bisa masuk ke state optimis, maka kita akan bisa menjadi orang2 yang lebih optimis, bukan hanya sekedar ber-positive thingking atau negative thinking tapi bisa menjelaskan berdasarkan apa yang kita lihat dengan cara yang memberdayakan diri kita.

Kesimpulannya: Optimis adalah cara kita menjelaskan dan itu merupakan state, yaitu state yang kompleks.

Optimism vs Tantangan

Apakah optimis itu mudah? bisa jadi jawabannya mudah namun bisa juga susah. Menjadi mudah, ketika semua baik-baik saja. Namun bbagaimana ketika kita menghadapi suatu tantangan. Sebagai contoh: saat pandemic seperti sekarang ini, dimana PSBB diperpanjang, angka PDP semakin tinggi, business dan perekonomian mulai tergoncang, apakah kita mampu untuk tetap optimis?

Hidup ini pasti ada tantangan, ada saja yang menimpa kita yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan, ada saja hal buruk yang menimpa kita. Saat menghadapi ini, kita perlu untuk melihat bagaimana kita menjelaskan “Hal Buruk”, tersebut. apakah kita melihatnya sebagai:

  • kesulitan?
  • Mengganggu?
  • sebuah tantangan yang perlu dihadapi.
  • atau kesempatan?

ketiga cara melihat di atas adalah benar, benar menurut diri kita masing-masing. Setiap orang memiliki cara melihat, cara meyakini sesuatu berdasarkan nilai-nilai dan makna yang diberikannya. Namun pertanyaannya adalah, apakah cara kita menjelaskan hal tersebut terhadap diri kita adalah sesuatu memberdayakan? yang membantu kita untuk menjadi lebih baik? dan bisa membantu saya untuk bangkit dan menghadapi tantatangan tersebut.

Mari kita belajar dari Victor Frankl, seorang yahudi yang dimasukkan ke dalam camp dan berhasil keluar dan bangkit. Beliau memperkenalkan satu istilah “Tragic Optimism”, yang akan membantu kita keluar dari (1)Kesakitan;(2) Rasa Bersalah; (3) Kematian.

Manfaat Optimis:

  1. mental; cara fikir kita akan menjadi lebih baik karena akan lebih mampu untuk melihat kesempatan
  2. Emosional; mampu membantu kita untuk terlepas dari perasaan takut berlebih, tertekan, cemas.
  3. Tubuh. Penelitian dari Harvard, orang2 yang optimis, jauh lebih sehat daripada orang2 yang pesimis.
  4. Performa; Hal ini didukung oleh penelitian tentang lifelong research, dimana orang2 yang optimis memiliki performa dan fungsi tubuh yang lebih baik.

Coaching Optmism vs Human Nature:

Sabagai manusia, kita memiliki human nature sebagai orang2 yang berusaha untuk mengerti, mencari tahu dan memiliki mental pembelajar.

Ketika kita pesimis, kita belajar menjadi orang-orang yang tidak berdaya. Orang-orang yang pesimis, akan cenderung helplessness.  Learn Helplessness sama dengan Clinical Depression. Jadi orang-orang yang pesimis ini akan melihat sesuatu itu “selamanya”, “segalanya”, dan tentang “saya”.  Mereka adalah orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah korban, mereka adalah penyebab, mereka adalah orang yang akan selalu gagal dalam segala hal, selamanya dan karena memang saya tidak mampu.

Berdasarkan penelitian dr. Martin Seligman, mengatakan bahwa orang-orang yang learn helplessness, dan mereka berusaha belajar dan bangkit dari hal tersebut, dan saat mereka berhasil, mereka tidak akan pernah lagi menjadi learn helplessness.

Dan ketika kita learn optimsm, maka kita akan melihat sesuatu sebagai “sementara”, “spesifik”, dan “sumbernya dari luar”.Namun, untuk “sumber dari luar” ini, perlu kita berhati-hati, karena dibutuhkan kejujuran disini, sehingga tidak mengarah ke blaming.

Sebagai contoh: saat covid-19, PSBB. Ini adalah sementara, selama pandemic ini saja, dan yang tidak boleh adalah keluar dan kumpul2, ini adalah kebijakan pemerintah, tidak hanya saya saja yang tidak boleh keluar dan kumpul2.

Pattern Coaching Optmism:

Step 1: Akses State “BUKAN SAYA”.

Saat kita menghadapi masalah, kita sering melihatnya dengan kacamata kuda dan terfokus pada diri kita. Pada state ini adalah untuk mampu membedakan apakah ini tentang saya atau bukan saya, apakah ini tentang yang terjadi di luar saya atau di dalam saya. Jadi, yang pertama kita perlu aware saat akan meng-coach diri kita adalah mampukan kita melihat bahwa masalah ini tentang saya atau bukan saya.

Step 2: Indeks, apa yang terjadi “ANALISA”.

Kita perlu step back, untuk melihat apa yang terjadi, apakah ini terjadi sementara dalam jangka waktu saat ini saja, pada kasus x saja, dan ini terjadi di luar diri saya. Jadi, saat kita menghadapi masalah, kita perlu untuk keluar dulu dari masalah (dissosiasi). Kita bisa juga melakukannya dengan cara menulis dulu semua masalah, lalu mulai lakukan pengideks-an, analisa apa yang sedang terjadi.

Step 3: Ada dampak pemikiran baru? “HARAPAN”

untuk bisa optimis, kita perlu memiliki harapan, dengan cara memikirkan apa dampaknya.

Step 4: lakukan validasi, apakah berguna? “BERDAYA”.

Ajukan pertanyaan, apakah ini berguna untuk saya? lalu lakukan validasi, yang mana pemikiran yang berguna, mana yang tidak berguna. Kita bisa melakukan pemilahan juga saat melakukan self coaching. Contoh: pemikiran yang berguna ini akan diambil, namun untuk yang tidak berguna, maka tidak diambil, dan kemudian ditanyakan kembali apa lagi pemikiran yang memberdayakan?

Step 5: Integrasi dengan sumber daya, “OPTIMIS”

Berdayakan sumberdaya yang ada, mis: perasaan tenang, focus. Contoh: bagaimana saya bisa fokus dan pengamatan yang lebih tajam sehingga saya bisa menghadapinya. Bisa juga ditambahkan dengan sumber daya ingin belajar. Mis: saya inign tahu, apa yang berpotensi menjadikan masalah ini semakin besar atau teratasi.

WhatsApp Image 2020-05-11 at 2.16.15 PM

Disampaikan dalam Meta-Coach Cafe Online Session, Rabu, 15 April 2020, oleh Ns Trainer, Irvan Jie.

Disadur oleh Tina Melinda.

Notes: Meta-Coach Cafe Online Session dilaksanakan rutin oleh MCF setiap bulan, hari Rabu. Apabila ada yang ingin ditanyakan terkait Meta-coach cafe, bisa hubungi saya di email: melinda041080@gmail.com

 

 

 

 

 

Leave a comment