Malam ini, kalimat “you don’t have to be perfect to start” bergema cukup keras di kepala setelah selesai ngobrol dengan coach Hany melalui whatsapp. Obrolan kami awalnya adalah membahas tentang rencana melakukan bincang-bincang santai dari ig ke ig, yang kemudian berlanjut kepada sesuatu yang sangat fundamental bagi saya yaitu tentang bagaimana agar talenta yang sudah diberikan oleh Allah tidak disia-siakan begitu saja, tentang bagaimana bisa menebar kebermanfaatan melalui kata dan tulisan.
Memang, sudah cukup lama rasanya saya ingin menuangkan pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki ke dalam sebuah karya tulis, yaitu buku. Namun, tiap kali saya mulai mengetikkan satu hingga dua paragraph, ada sesuatu yang menghambat saya, ada bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang saling berebut untuk dijawab, seperti misalnya: siapa kamu sehingga merasa pantas menulis buku? Banyak orang lain yang lebih pintar dari kamu tapi mereka tidak menulis buku, lantas apa yang membuat kamu berfikir untuk menulis buku? dan sederet pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat saya akhirnya mengurungkan niat untuk melanjutkan niat menulis buku.
Malam ini, saya kembali di sentil oleh saudari saya, coach Hany. Dan sayapun kembali melakukan dialog dengan diri saya melalui sebuah pertanyaan sederhana “Hei Tina..Do you have something that hold you back from doing a thing? Or start a new thing?”. Dan jawabannya adalah, iya, ada, saya ingin melakukan sesuatu secara sempurna. Saya tidak juga mulai menulis buku karena saya ingin menjadi seseorang yang sempurna terlebih dahulu, dan merasa pantas. Namun kemudian pada saat kapankah saya akan menjadi sempurna? Jawabannya ntahlah…boleh jadi saya tidak akan pernah sampai pada titik merasa sempurna, karena bagi saya, hidup adalah proses, ya…berproses untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. So, kalau begitu, ngapain harus menunggu sempurna?
Apakah teman-teman pernah mengalaminya? Apakah pernah memiliki suatu ide untuk memulai sesuatu namun kemudian tidak jadi melakukannya karena merasa belum siap dan akhirnya waktu berlalu begitu saja dan ide itu menjadi sekedar ide? Jika iya, jangan sedih, kita berada di halaman yang sama. Kalau kata bule, we are on the same page..hehe… Tapi pertanyaannya, mau sampai kapan kita begini? Iya kan? Yuk bangun….dan liat kalimat keren di bawah ini:
Don’t wait until your idea is perfect before releasing it into the world.
Ok, bungkus!! Jadi kita gak usah nunggu-nunggu sampai sempurna, mulai aja dulu lalu biarkan dalam prosesnya kita lakukan perbaikan terus menerus. Ok?
Tapi bentar….give time for yourself. Luruskan dulu tujuannya dan periksa dulu apakah ini sejalan dengan keyakinan yang kita miliki? Apa tujuan seorang Tina ingin menulis buku? apa intensinya? Apa yang mendorong Tina ingin berbagi pengetahuan, menulis blog? Mengadakan sesi sharing session?
Saya ingin berbagi, ya…itulah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Saya meyakini bahwa kita perlu menyampaikan suatu ilmu walau satu ayat. Keyakinan inilah yang melatarbelakangi kegiatan-kegiatan yang saya lakukan. Saya berharap agar orang lain dapat memiliki akses dan kemudahan untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang saya miliki. Saya menulis dan berbagi bukan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, namun lebih kepada bagaimana agar pengetahuan yang saya miliki bisa bermanfaat. Pada akhirnya, saat kita tidak ada di muka bumi ini lagi, salah satu penolong kita adalah ilmu yang bermanfaat.
Saat menyadari kembali intensi saya, akhirnya saya merasa lebih ringan untuk mulai kembali menulis dan menerbitkan tulisan-tulisan saya. Mengutip kata-kata coach Hany, seorang penulis tidak membutuhkan approval dari orang lain terkait apa yang ingin ditulisnya, seorang penulis akan menuliskan apa yang ingin ditulisnya sesuai dengan dorongan hati dan pikirannya.
Semoga ke depan bisa lebih konsisiten untuk menulis dan berbagi. Amiinnnnn…..


Leave a comment