Pernahkah Anda di dalam hidup ini mengingingkan sesuatu lalu kemudian Anda belajar, mengikuti workshop dan berguru dari banyak orang, namun ternyata entah apa sebabnya Anda belum juga melakukan apa yang Anda ketahui dan akhirnya keinginan Anda belum juga terwujud? atau Anda menginginkan perubahan atas sesuatu dan Anda sudah tahu caranya namun Anda tetap belum melakukannya? Jika Anda pernah mengalaminya, ini merupakan salah satu versi dari Knowing-Doing Gap.

Jika Anda pernah mengalaminya, saya pun pernah mengalaminya, beberapa kali.

Tahun 2008, saat saya dan sahabat saya baru menyelesaikan studi di Magister Profesi PIO UI, kami pernah berencana membuka sebuah konsultan psikologi. Rencana ini kami sampaikan kepada ayah sahabat saya yang sudah berpengalaman di dunia usaha. Seperti gayung bersambut, ayah sahabat saya mendukung dan menawarkan untuk menggunakan kantor beliau dan perlengkapan kantornya sebagai modal dasar kami. Kamipun kemudian mengungjungi kantor tersebut dan melakukan beberapa kali pertemuan untuk membahas model bisnis, visi misi, serta strategi businessnya. Salah satu output dari pertemuan kami adalah lahirnya sebuah tagline dan motto bersama yaitu  Maju, Bangkit dan Bergerak. Output pertemuan ini pun kami laporkan kepada ayah sahabat saya tersebut dan kami mendapatkan apresiasi atas hasil tersebut.
Namun, selang berapa lama, kami tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Saya bekerja di sebuah lembaga training & consulting, dan sahabat saya juga bekerja di sebuah perusahan manufacturing. Setiap kali kami bertemu, ayah sahabat saya selalu bertanya, sudah sejauh mana progress pembuatan konsultantnya, dan kami pun hanya bisa melemparkan senyum, hingga suatu saat, ayah sahabat saya berkata “kalian ini…udah maju, bangkit tapi gak bergerak-gerak. Yang penting itu bergerak,percuma kalian maju satu langkah dan bangkit berdiri tp gak jalan-jalan, sama aja boong”.

Mengingat kisah tersebut, akhirnya saya menyadari bahwa yang terjadi saat itu adalah kami INGIN, tapi apakah kami BENAR-BENAR INGIN dan SIAP? Atau jangan-jangan kami hanya LATAH, ingin punya konsultan karena psikolog biasanya punya konsultan psikologi? Saat itu, kami memang tidak menggali tentang apa yang kami yakini mengenai membuka usaha konsultan psikologi. Yang kami sadari adalah, bahwa ada ayah sahabat kami yang mendukung dan kami pun tahu harus mulai dari mana dan apa yang perlu disiapkan untuk memulai usaha tersebut.  Tapi kami tidak bergerak, bukan karena kami tidak tau apa yang harus dilakukan. Kami hanya tidak melakukannya saja.

Saat kami tidak melakukannya, dan terjadi gap antara knowing dan doing, tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa yang dibutuhkan adalah  semangat, harus semangat! Harus semangat!. Hal tersebut tidak salah, namun perlu diketahui bahwa semangat saja tidak cukup dan semangat tidak berdiri sendiri, banyak aspek yang mempengaruhinya. Nah loh…terus gimana dunk?

The Energy flows where the attention goes.

Dalam sesi coaching, seorang meta-coach biasanya akan memulai sesi dengan pertanyaan ” What do you want” untuk menggali motif dan keinginan dari client. Pertanyaan ini terkesan sangat ringan, namun menariknya adalah, tidak sedikit orang yang tidak mampu untuk menjawab apa yang benar-benar diinginkannya. Termasuk kami saat itu, apakah kami benar-benar ingin punya konsultan sendiri atau sebenarnya kami ingin mencari pengalaman bekerja di perusahaan terlebih dahulu?  Tidak sedikit client yang mengatakan pada saat coaching bahwa ia menginginkan A, namun saat diajukan beberapa pertanyaan, ternyata ia tidak benar-benar mengingingkan A, namun ia justru menginginkan B.

Oleh karenanya sangat penting untuk memperjelas terlebih dahulu APA yang Anda inginkan, dan apakah keinginan Anda itu benar-benar yang Anda ingingkan? Apakah keinginan Anda itu merupakan misi yang ingin Anda capai? Dan apa pentingnya untuk Anda? Why is it important? Saat Anda sudah yakin hal tersebut penting, maka akan lebih muda bagi Anda untuk memikirkan plan nya dan menjalankannya. Disinilah pre-supposition The Energy flows where the attention goes mulai berlaku, ya….energi akan mengalir ke tempat perhatian Anda.

Untuk mendapatkan apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup, Anda memerlukan tujuan yang jelas dan makna di baliknya. Setelah tujuan Anda tersedia, Anda dapat memfokuskan energi pada tujuan Anda. Ketika Anda belajar bagaimana memfokuskan energi Anda, hal-hal menakjubkan terjadi. Anda mendapatkan wawasan yang sebelumnya tidak tersedia bagi Anda. Anda bertemu orang-orang yang secara ajaib menempatkan Anda di jalur untuk membantu Anda. Anda mendengar percakapan atau menemukan sumber daya yang melanjutkan rencana Anda. Itulah rahasia bagaimana energi mengalir ke arah perhatian.

5 Langkah Closing The Knowing-doing Gap.

Setelah tahu apa yang kita inginkan, maka kita bisa gerakkan energi kita untuk melakukan  closing the Knowing-Doing Gap dengan 5 langkah sederhana berikut ini:

  1. Knowing & Understanding. Bangun awareness tentang apa yang kita tahu, dengan cara memberikan pemahaman pada diri kita dan mengatakan pada diri kita bahwa “saya memahami bahwa menulis buku adalah cocok dengan saya, dan saya faham bahwa menulis akan membuat saya menjadi sehat secara mental, semangat saya menjadi tinggi dan semakinn produktif sehingga saya lebih bergairah dalam hidup.”  Aware ini adalah kesadaran pribadi, tidak perlu diucapkan dengan keras, namun akan lebih bagus diucapkan agar ada muscle memory yang mengingatnya. Mis: kayak kita sholat, kita ucapkan keras, agar mulai ada keselarasan dengan ap ayang kita piker dengan tubuh kita, ucapakn kita.
  2. Belief. Sesuatu itu tidak akan kita jalankan kalau tidak kita yakini, We experienced what we believe. Percuma kita mengatakan sesuatu kalau kita tidak yakin, kalau tidak masuk ke belief system. Jadi penting untuk memasukkan awareness tadi ke dalam belief system kita. Mis: aku yakin kalau menulis itu cocok untukku, dan aku yakin bisa melakukannya
  3. Decision & Permission. Yakin aja tidak cukup, kita perlu memutuskan dan memberikan permisi kepada diri kita untuk memutuskan. Sebagai contoh: Aku memutuskan untuk fitness, karena fitness membuat aku prima dan menjadikanku menjadi produktif dan excellence. Itu bagus buatku. Aku mengijinkan dirku untuk prima dengan mengikuti fitness.
  4. Feeling. Kita perlu merasakan sensasinya dengan merubah pengetahuan menjadi suatu rasa. Contoh: memutuskan untuk fitness, maka rasakan bagaimana saat kita fitness, selesai fitness gimana rasanya, hasilnya gimana, bayangkan dan rasakan secara muscle apa yang dirasakan. Bayangkan keseruan fitnessnya, bayangkan saat sehat maka dalam mengajar menjadi lebih prima, uang makin banyak, anak2 makin bagus sekolahnya, bayangkan perasaan itu, dan perasaan itu lah yang akan meng-empower kita.
  5. First Step, one thing I will do today. Ambil satu hal/tindakan kecil yang merupakan bagian dari tindakan besar yang akan kita lakukan. Mis: satu yang saya lakukan hari ini adalah membeli sepatu olahraga.

Semoga, dengan mempraktekkan ini kita bisa closing the knowing-doing gap dengan lebih efektif.  Mari kita cari dan temukan ap ayang menjadi misi dan tujuan kita, menyadari apa pentingnya bagi kita, dan menyusun rencana. Saat kita sudah melakukan hal tersebut, maka energi akan bergerak mencapainya, the energy flows where the attention goes, dan jangan lupa untuk mempraktekkan 5 langkah di atas. Selamat mencoba dan selamat Closing the Knowing-Doing Gap.

You Don’t Have to be Perfect to Start.(2)

Insight come from neuro-semantics approach, coach om Prasetya M Brata session, and my personal experienced.

Leave a comment