Salah satu program back to society yang secara rutin kami lakukan di Sinar Mas Mining adalah dengan menyelenggarakan program edukasi berupa free webinar, berkolaborasi dengan perusahaan2  dan para expert dari berbagai sector industri.

Hari ini, 29 June 2020, bekerjasama dengan bukalapak, kami menyelenggarakan Learn with the Expert; dengan tema Employee Engement in Modern Ways dengan speaker yaitu CHRO SMM,Bpk Paulus Swasono Satyo N, dan CEO Bukalapak, Bpk Rachmat Kaimuddin.

Berikut adalah beberapa insight yang bisa diambil dari sesi ini:

Belajar dari Sinar Mas Mining

Sinar Mas Mining dengan beberapa pencapaian dan prestasi yang ditorehkan hingga hari ini, tidak terjadi hanya dalam satu malam. Ada sebuah roadmap/ perjalanan panjang yang perlu ditempuh, dan di setiap titik/milestone pada roadmap tersebut ada target2 pencapaian yang perlu diraih. Dan perlu diakui, bahwa dalam perjalanan itu, ada peluh disana, ada upaya yang menyita waktu dan pemikiran, ada keringat dan ada juga tawa bahagia.

There was no miracle moment.

Instead, a down-to-earth, pragmatic, committed-to-excellence process—a framework—kept each company, its leaders, and its people on track for the long haul. “JIM COLLINS”

Salah satu upaya yang dilakukan oleh HR Sinar Mas Mining untuk menjadi tempat terbaik bekerja adalah dengan  membagun great company, great people, great value, great job and great reward. Dan untuk itu, maka dibangunlah sebuah ekosistem yang komprehensif sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini.

SMM ecosystem

Beberapa tahun yang lalu, Sinar Mas Mining masih banyak proses HR-nya yang menggunakan pendekatan tradisional, namun kemudian dengan semangat transformasi dan agile structure yang dibentuk, SMM secara massive melakukan perbaikan dan transformasi menuju digitalisasi. tidak berhenti di transformasi, SMM juga terus melakkan pembenahan secara menyeluruh.  From Transformation to Re-formation.

Saat berbicara tentang transformasi digital di sinar mas mining, kita tidak berbicara tentang technology saja, karena technology hanyalah merupakan enabler, namun manusialah yang membuat digitalisasi itu ada. Kami percaya bahwa kesuksesan sebuah organisasi 90% adalah karena Peoplenya, sementara technology hanya memberikan sumbangsih sebesar 10%.

Belajar dari Bukalapak.

Menilik sejarah berdirinya bukalapak, semua dimulai dari sebuah kamar kost oleh anak-anak muda dengan the very humble goals yaitu tentang bagaimana memberdayakan UMKM melalui technology. Dari visi itu, akhirnya Bukalapak terus bertumbuh dan kita bisa liat bagaimana sekarang posisi Bukalapak di Indonesia.

Bukalapak terdiri atas + 2.000 employees, +800 tech based talents/Engineer/product, +80 of employees are millennial (age 24-39).

Walaupun sekarang Bukalapak sudah besar dan dikenal, namun Bukalapak tidak pernah lupa akan misi yang ingin dibangun “A fair Economy for All“. Bukalapak adalah perusahaan yang melayani masyarakat. Pengejewantahan nilai ini diturunkan menjadi:

  1. Enable customers to crow
  2. Give a Dam –> tunjukkan, buktikan, lakukan.
  3. Jangan Baper, Liat Data!
  4. Keep it simple (saat di luar sibuk dengan technologynya cutting edge, Bukalapak tidak tenggelam pada technologynya, tapi pada fokusnya yaitu bagaimana melayani dengan menggnakan teknologi yang sederhana)
  5. Gotong Royong
  6. Be Fun.

Nilai-nilai ini secara intensif dikomunikasikan secara internal. Tidak sekedar nilai, komunikasi di lingkungan Bukalapak juga mencakup pembahasan yang lebih luas, mulai dari topik yang remeh temeh hingga topik yang formal.  Berikut ini adalah   beberapa channel yang digunakan secara internal yaitu: C-updates and townhall (untuk yang sifatnya lebih formal), ada Bukalapak Squad Mail info dan Chat Announcement, Open Forum dan Chit-chat with managemnet level, BukaKabar internal newsletter dan happiness survey.

Terkait dengan Happiness Survey, Bukalapak konsisten melakukan survey ini secara quarterly. dan yang manarik, dari survey tersebut, ditemukan ada 5 faktor yang signifikan memberikan kontnribusi kepada kebahagiaan (Happiness) karyawan di bukalapak, yaitu:

  1. Sense of Meaning through company vision
  2. The Job Itself
  3. Employer concerns of wellbeing
  4. The people
  5. Trust to Leadership.

Employee engagement vs employee satisfaction

Kalau engagementnya bagus maka employee satisfactionnya akan mengikut. Kepuasan kerja merupakan suatu fondasi yang sangat penting untuk membuat karyawan nyaman dan produktif, namun tanpa adanya  keterlibatan employee engagement, maka kepuasan tersebut akan sulit untuk dipertahankan.

Gallup

Jadi, implementasi pada umumnya adalah: perusahaan mulai dengan secara teratur mengukur kepuasan kerja di antara karyawan (employee satisfaction survey), dan secara konsisten menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kepuasan. Dan saat hal tersebut sudah terbentuk, umumnya merekapun akan menindaklanjutinya dengan survei keterlibatan karyawan (employee engagement survey), memahami area di mana perusahaan tidak berkinerja baik.

WhatsApp Image 2020-06-28 at 4.50.52 PM

 

 

 

Leave a comment