Bagi pecinta drama serial korea, atau yang berlangganan Netflix, kalimat “It’s Ok to Not Be Okay” pasti sudah sangat familiar bukan? Bagaimana tidak? Setiap kali buka netflix, flyer drama serial ini kerap kali berseliweran di laman paling depan.
Namun, saya sebenarnya bukan ingin membahas synopsis atau narasi tentang drama serial korea ini. Saya hanya ingin meminjam judul drama serial ini, bahwa “It’s Ok to Not Be Okay” dan mengajak melihat beberapa insight terkait tema ini yang boleh jadi relate (pinjam istilah anak muda sekarang) dengan kehidupan sehari-hari kita, khususnya pada saat berinteraksi dengan orang lain.
Mudah diucapkan memang…….
It’s Ok to Not Be Okay, sebuah kata yang tampak ringan sekali untuk diucapkan namun berat untuk dilakukan.
Mari kita flashback sebentar, dalam keseharian kita, ketika ada teman, sehabat, rekan kerja atau sanak saudara yang datang untuk curhat dan menceritakan permasalahannya, kegelisahaan, luka batinnya, kita tidak jarang secara spontan mengucapkan kata2 menasehati yang secara tidak langsung di dalamnya mengatakan bahwa tidak baik begitu, kamu harus baik-baik saja, It’s Not Ok to Not Be Okay. Apakah kamu juga pernah melakukannya? Instead of mengatakan It’s ok to not be okay, kita malah memberikan negasi menjadi it’s not ok to not be okay.
Kita terbiasa untuk memaksa orang lain memiliki sikap positif tentang kehidupan ini, seolah-olah tidak ada ruang untuk merasa tidak berdaya, sebagai contoh, “seharusnya kamu lebih bersyukur, kurang apa lagi kamu coba? Banyak orang yang kurang beruntung dari kamu”. Tapi tahukah rekan-rekan? Ternyata hal tersebut tidak benar-benar bisa membantu orang yang sedang mengalami kesulitan. Ada kalanya kata-kata penyemangat tersebut justru terasa sangat menyinggung dan menyengat dan tidak jarang juga yang justru membuat rekan kita menjadi merasa kecil diri, bahkan menjadi depresi.
Mengutip Mari Hoang, kata-kata penyemangat yang dianggap positif kerap kali justru bisa membuat orang merasa lebih buruk.
Tidak jarang orang terjebak dengan Toxic Positivity, bagaimana dengan kamu?
Maksud hati ingin memberikan support dan menyemangati, namun malah kita terjebak dengan yang namanya “Toxic Positivity”. Toxic positivity ini merupakan respon alami manusia ketika berhadapan dengan penderitaan atau masalah orang lain, karena pada prinsipnya kita tidak merasa nyaman ketika dihadapkan pada situasi yang tidak berdaya atau rasa sakit. Kita cenderung mendorong orang lain untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan oleh orang tersebut dan kita pun cendrung untuk tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk meluapkan perasaannya.
Psychology Today, ungkapan Toxic Positivity mengacu pada konsep bahwa seseorang hanya boleh berfokus pada hal-hal positif namun menolak apa pun yang dapat memicu emosi negative dan tidak berdaya.
Mari kita flashback sebentar, saat ada rekan yang datang dan curhat tentang permasalahan dan penderitaannya, seberapa sering kita memberikan respon atau mengatakan: “ah gitu doank, saya pernah lebih buruk masalahnya, tapi toh kenyataannya saya baik-baik saja”, atau misalnya “kurang banyak bersyukur aja kamu itu, atau ya ela, begitu doank dikeluhkan, ingat…banyak orang lain yang memiliki hidup yang lebih berat, atau ngapain sih sedih-sedih begitu, udahlah…gak worth it!, kamu cemen banget sih, gitu aja dipikirkan, badai pasti berlalu man!!, halah….makanya ibadah, kebanyakan halu kamu ini, dan komen2 lain yang kita pikir memberdayakan namun tidak sedikit akhirnya yang membuat orang lain justru mundur, tidak mau menceritakan kisahnya, dan berpura-pura bahagia saja karena khawatir di judge tidak pandai bersyukur. Tidak sedikit akhirnya yang berespon “gak usah lah diceritakan, ntar juga cuma dinasehatin, diomelin, disepelein, dan di judge. Udahlah, gak usah cerita-cerita kalau kita lagi Not Okay, karena orang lain tidak akan menerima bahwa sometimes, you can feel that you are not okay.
Kalau selama ini kita sering atau masih pernah melakukan lontaran-lontaran berupa “Toxic Positivity”, yuk coba kita rem dan stop. Mereka yang datang ke kita untuk menceritakan kegalauan, kegelisahan, ataupun kesulitan mereka terkadang hanya butuh untuk didengar. Mereka terkadang tidak membutuhkan positivity advice namun mereka hanya ingin dimengerti, mereka mengharapkan empati kita. Gairah kita yang besar untuk menyemangati justru bisa berujung pada membuat orang lain semakin terpuruk.
Yuk biasakan mendengar untuk memahami, bukan mendengar untuk menasehati semata.
Berikan validasi terhadap apa yang sedang dialami atau dirasakan oleh orang lain atau diri kita……..
Saat kita ingin orang lain mendengarkan kita, sebenarnya boleh jadi kita sedang mengharapkan adanya validasi terhadap apa yang kita rasakan. Validasi adalah perbuatan untuk memberi tahu seseorang bahwa apa yang dirasakan atau dialaminya itu nyata adanya dan bisa dipahami (Psych alive). Namun bukan berarti kita lantas menyetujui orang tersebut, kita hanya memberikan respon bahwa kita memahaminya dan berempati atas peristiwa yang sedang dialaminya.
Coba bayangkan, misalnya kamu sedang curhat mengenai atasan yang toxic dan seenaknya saja memberikan tugas bahkan di hari weekend kamu. Respon mana yang lebih menenangkan “lihat sisi positifnya dong, seenggaknya penghasilan kamu lebih tinggi dari orang lain di departemen kamu, kamu gak bisa juga kan memilih atasan? Itu artinya kamu dipercaya, bersyukurlah!” Atau “aku mengerti perasaan kamu ke atasan kamu, ngak enak banget ya kerja seperti itu, kamu kesal banget ya?”. Kira-kira, respon mana yang akan lebih menenangkan? Kalau saya sih pasti milih respon kedua, karena respon kedua itu membuat saya merasa telah dimengerti. Saat saya dimengerti, saya pun mulai mampu mengolah informasi yang terjadi dengan lebih jelas.
Jadi, saat seseorang datang kepada kamu, lebih baik memberikan kesempatan kepadanya untuk mengakui perasaannya tanpa buru-buru ditimpa sikap semu bahwa dia harus positif. Memang kata-kata positif tersebut terdengar bagus, tetapi tidak semua orang dapat menerimanya, terutama mereka yang sedang membutuhkan bantuan. Jangan ajak mereka untuk menghindari emosi negatif atau luka batinnya, karena, ketika kita menyangkal atau menghindari emosi yang tidak menyenangkan maka tanpa disadari, kita dapat membuat emosi negatif tersebut menjadi lebih besar. Dan semakin kita menghindari emosi yang tengah kita rasakan, maka semakin besar peluang kita untuk kehilangan informasi yang berharga, semua menjadi semakin tidak jelas, dan akhirnya kita semakin tenggelam pada emosi tersebut. Maka, adalah penting untuk mengakui apa yang tengah kita rasakan.
Berikan kesempatan untuk melakukan validasi terhadap apa yang tengah kita atau orang lain rasakan. Bantu Ia menguraikan apa yang sedang terjadi. Saat perasaan atau pengalamannya tervalidasi, Ia akan merasa lebih berdaya, dipahami dan didukung, serta terbantu untuk bisa lebih menerima perasaannya. Sebaliknya, saat perasaan atau pengalamannya tidak tervalidasi, maka dia akan merasa tidak dipahami dan pasti akan lebih sulit juga untuk menerima perasaan yang sedang dihadapinya.
Jadi, sederhananya..….kalau misalnya seseorang datang, dan berkata ingin menyerah akan karir dan pekerjaannya, alih-alih langsung mengatakan “jangan menyerah”, lebih baik kita coba gali apa yang ada di pikirannya saat mengatakan menyerah tersebut, apa keyakinannya, dan apa yang membuat ia ingin menyerah. Validasai pikirannya, apakah ia benar-benar ingin menyerah, atau ini hanya sekedar ungkapan kekecewaannya saja? Bantu dia menguraikan apa yang membuatnya begitu sedih. Validasi perasaannya, baru lah kemudian ajak dia berfikir tentang apa yang diinginkannya selanjutnya.
Berhenti pura-pura bahagia:
Dan buat kita-kita yang selama ini mungkin berlakon dan berpura-pura bahagia, yuk stop juga! It’s ok kalau kita gelisah, it’s ok kalau kita merasa tidak okay. Hidup toh tidak melulu tentang tertawa, bercanda dan bahagia. Kita boleh sekali2 merasa tidak okay dan mengakuinya. Yang terpenting adalah, saat kita merasa dan berpikir kita tidak okay, bagaimana kemudian kita akhirnya bisa menemukenalinya dan melakukan tindakan nyata untuk menjadi lebih okay!.
Tips: saat kita benar2 merasa tidak okay, dan butuh ketenangan, sementara tidak ada orang lain yang bisa mendengarkan kita, bisa lakukan dengan beberapa langkah: Butterfly hug, atau lakukan dengan expressive writing. (Kedua topik ini akan saya bahas pada artikel selanjutnya).


Leave a comment