Selamat datang 2021, tahun dimana penuh pengharapan, tahun dimana kita hidup dalam suatu peradaban yang relatif terbarukan dan dipenuhi kejutan2 yang terjadi sebagai akibat dari pandemic Covid-19 yang mau tidak mau mendorong kita untuk melakukan perubahan dari berbagai aspek.
Peradaban adalah suatu tingkat perkembangan di masyarakat, yang dari awalnya relatif sederhana dan kemudian berkembang dan terus mengalami perubahan menjadi semakin kompleks. Seiring dengan perkembangan peradaban maka terjadi pula keberagaman. tidak hanya itu, terjadinya perubahan terhadap peradaban menuntut kita untuk bisa dengan cepat merubah gaya hidup, kebiasaan dan keterampilan. Jika kita menilik pada dunia industri, kita bisa melihat bahwa sekarang terjadi keberagaman pekerjaan dari yang semula tidak ada menjadi ada. Dulu kita kenalnya akuntan, SDM, tp sekarang makin beragam, ada social media expert, big data analyst, UI/UX dan lainnya.
Peradaban baru sudah terjadi, kita bukan menuju lagi, tapi justru sudah berada di dalamnya. Peradaban baru mendorong kita untuk bisa secara cepat belajar dan catch up dengan perubahan dan perbedaan yang terjadi, khususnya bagi kita yang sudah cukup senior dan belum terbiasa dengan peradaban baru yang terjadi hari ini. Kita tidak pernah menduga pandemic seperti saat ini akan terjadi, dan pandemic ini memaksa kita untuk melakukan perubahan dalam berbagai aspek. VUCA bukan lagi menjadi suatu wacana semata, tapi VUCA benar2 terjadi.
Setiap kita boleh jadi mengerti apa itu VUCA, yaitu singkatan dari Vulnarable, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Namun pertanyaannya adalah bukan apa itu VUCA, namun bagaimana menghadapi VUCA itu sendiri. Yang menarik dari sesi pak Indra dalam Mcf Cafe tanggal 13 January 2021, beliau mengatakan bahwa hadapilah VUCA dengan VUCA. Mungkin teman2 jadi bertanya2, loh…kok menghadapi VUCA dengan VUCA? yuk kita lihat apa maksudnya melalui gambar berikut ini:
Pada saat kita menghadapi Vulnerable, maka untuk menghadapinya kita perlu memiliki visi. Namun perlu diingat, bahwa visi disini bukanlah sekedar visi. Kita perlu memiliki visi yang berdasarkan pada systemic thinking.
Sedangkan untuk situasi yang Uncertainty, harus dibalas dengan understanding, yang meliputi aspek ecology, people dan technology. Menurut pendekatan Fritjop Capra, saat disruption karena pandemic terjadi maka ini disebabkan oleh ketidakseimbangan Ecology. Pandemic terjadi paling banyak di Jakarta, dimana population density nya paling tinggi. Kalau kita bandingkan di daerah kecil seperti kampung saya Padangsidempuan, disana hampir tidak ada covid-19, dan merekapun tidak melihat covid-19 ini sangat serius sebagaimana kita yang tinggal di kota jakarta melihatnya. Population density terjadi karena kepadatan penduduk, dimana kota Jakarta paling banyak dan orang daerah berdatangan ke kota Jakarta untuk tinggal dan hidup. Hal ini mengakibatkan terjadi ketidakseimbangan ecology yang dapat menimbulkan terjadinya hal2 yang tidak diharapkan. People juga bisa menjadi penyebab disruption. Mis: 1998 terjadi crisis moneter yang disebabkan oleh perilaku orang yang berbondong2 melakukan peminjaman dollar, karena memang kebijakannya orang diberikan ijin untuk pinjam dollar. Akibat yang dimunculkan adalah terjadi efek domino, tidak hanya di Indonesia, namun di berbagai negara. Harga dollar melambung tinggi dari sekitar Rp 2.500 hingga menyentuh Rp.17.000,-. Selain itu, technology juga dapat mengakibatkan disruption, yaitu lahirnya teknologi2 baru yang menyentuh hampir seluruh bidang kehidupan, seperti e-commerce, fintech, dll.
Saat menghadpi siatu yang penuh dengan Complexitiy, maka kita perlu menghadapi dan menjawabnya dengan clarity. Sesuatu yang kompleks perlu dipetakan sehingga duduk perkaranya menjadi lebih jelas, sehingga tidak lagi terlihat sangat kompleks. Sedangkan untuk Ambiguity, kita perlu jawab dengan Agile dan Resilience. Kelincahan dan kelenturan kita dalam menghadapi ambiguity menjadi cukup strategis.
Michael Hall, dalam buku Systemic Coaching nya (Coaching The Whole Person, 2012) menjelaskan bahwa suatu coaching yang dilaksanakan tidak holistic, maka sebetulnya itu bukanlah coaching yang sebenarnya. Coaching sejatinya bersifat sistemik.
” If coaching isn’t holistic, it is not truly coaching. True coaching is SYSTEMIC by nature and design. And yet, most coaches do not coach systemically. In fact, most have not been trained to think and work systematically and do not have systemics models to work with”.
Dalam pemaparannya, terdapat 8 ukuran2 yang bisa kita perhatikan pada saat akan melakukan suatu coaching atau pembinaan secara sistemik (test of systemic coach):
- Holistic: you hold the whole while dealing with the parts. Untuk memahami holistic ini, mari kita bayangkan suatu hutan. Saat anda membayangkan hutan, maka Anda akan melihat banyak pohon2 disana dan rumput2. Hutan merupakan satu kesatuan dari beberapa pohon dan juga tanaman rerumputan. Contoh implementasinya: mari kita lihat seorang dokter THT yang memeriksa client yang mengalami sakit kuping berdengung. Saat clientnya datang mengeluhkan sakit kuping (ini terjadi pada saya tahun 2018 dimana kuping saya berdengung setelah mendarat dari pesawat tujuan Singapore), maka sang dokter mengajukan pertanyaan2 yang cukup banyak seperti, apakah suka makan pedas? kalau kuping gatal biasanya diapain? pernah sakit seperti ini sebelumnya? waktu naik pesawat lagi flue kah? kemudian barulah ia memasang sebuah alat yang terhubung dengan komputer dan memasukkan ke kuping saya, dan dimonitor terlihat ada gendang telinga yang pecah. Lalu dia tidak terhenti disitu, ia pun meminta saya membuka mulut saya dan juga melihat hidung saya. Lalu, ia mengajukan kembali beberapa pertanyaan sebelum akhirnya ia menegakkan diagnostik. Apa yang dilakukan dokter ini adalah ia berusaha untuk melihat secara holistic. Bisa saja ia hanya melihat telinga saya dan memberikan obat, namun karena ia menganut pendekatan ini, ia tidak sebatas memeriksa telinga saja. Holistic ini juga banyak diterapkan di lingkungan perusahaan, saat kita menganalisa suatu hal, maka kita perlu melihat dari berbagai aspek, sudut pandang dan juga berbagai bidang. Kita pun mengambil keputusan2 dengan melihat apakah keputusan ini akan mempengaruhi yang lainnya? dan bagaimana dampaknya terhadap berbagai sektor dan proses yang ada di dalam organisasi.
- Relational: you ask all of the facets and focus on processes. Fokus terhadap proses menjadi salah satu hal yang cukup penting. Sebagai contoh: Pada saat saya bekerja di sebuah perusahaan plantation, sebut namanya ABC plantation, ada seorang anak pemilik perusahaan yang menjadi pegawai di perusahaan tersebut. Identitasnya tidak digembar-gemborkan dan ia pun diberikan tanggungjawab dan KPI yang jelas dan terukur. Setelah 1-2 tahun bekerja, prestasinya cukup gemilang, dan ia pun mampu menjajaki posisi strategis karena pencapaian KPI dan program development yang diikutinya. Suatu hari, CEO memberikan project besar untuk dikerjakan, dan ternyata ia berhasil. Setelah itu, ia pun diberikan tanggungjawab memegang satu anak perusahaan. Desas desus bahwa ia adalah anak owner mulai terdengar. Ia dihargai karena prestasinya dan ia diberikan tanggungjawab memegang satu anak perusahaan karena proses yang telah ia tunjukkan. Sebenarnya bisa saja owner menunjuk dia langsung menjadi director, tp hal tersebut tidak dilakukan karena owner ingin ia berporses terlebih dahulu.
- Dialectic Thinking: you think in term of cycles and spirals. Dalam proses berfikir, kita perlu memiliki cara berfikir yang cycles and spiral. Di dalam organisasi, salah satu contoh cara berfikir cycles ini adalah proses PDCA, yaitu: Plan dulu, baru do, check dan action. Proses ini menunjukkan bahwa kita berfikir tidak lurus, namun cycle, yaitu ada suatu perencanaan kemudian ada feedback, ada reaksi dan ada koreksi, dan ini terus berputar. Inilah yang disebut dengan dialectic thinking.
- Self – Organization:You look for pattern for solution inside the system. Hal ini menjelaskan bahwa kita perlu melihat pola / pattern. Contoh: saat menganalisis social media instagram, kita melihat sebuah pola bahwa pada saat konten yang kita posting berupa interaktif konten seperti kuis dan lomba maka impresi yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan kalau kontennya hanya berupa informasi ataupun microblog. Dan impresi yang tertinggi terjadi pada saat kuis tersebut terkait dengan pengelola keuangan dan persiapan pernikahan. Dan setelah dianalisa, rata2 follower ig kita ternyata anak muda milenials yang masih single dan melek keuangan. Melihat pola/pattern ini juga sangat kritikal untuk diterapkan pada saat melakukan coaching. Saat di coaching, kita tidak hanya melihat apa yang diucapkan atau terlihat, tapi kita juga melihat pattern di belakangnya, struktur yang ada di balik yang diucapkan. Oleh karenanya penting untuk melihat pola yang melatarbelakangin.
- Multiple Causation: Result Causation: result are co-created by many factors. You distinguish systems from causes. Untuk memahami ini, mari kita lihat sebuah perusahaan di Berau, yaitu PT.Berau coal. Kehadiran PT. Berau coal di Tanjung Redep, mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sekitar dan meningkatkan aktivitas kehidupan. Dengan adanya perusahaan tersebut, maka banyak bermunculan hotel disekitar kantor dan juga warung tempat makan. Tidak hanya itu, toko2 pun banyak berdiri, dan karena tingginya pergerakan manusia maka disana pun didirikan suatu airport dengan durasi penerbangan yang boleh dikatakan cukup banyak untuk ukuran kota kecil seperti Tanjung Redep. Inilah yang disebut multiple causation.
- System Invisibility: More than what you see. Ada hal2 yang tersembunyi yang terkadang tidak bisa dilihat kasat mata. Sebagai contoh: sebuah perusahaan real estate, dari luar kelihatan sangat hebat, iklannya bagus dan intensif. Tapi saat berhubungan dengan directornya, dia mengatakan bahwa setiap bulan saat gajian, perusahaannya tidak punya uang, terpaksa harus pinjam ke sana ke sini. Apalagi belakangan ini real estate mulai menurun. Ternyata invisible yang tidak terlihat adalah kemewahan dan flyer di sanasini ternyata tidak seperti apa adanya. Banyak hal2 di luar yang kelihatan hebat, tp saat kita lihat di dalamnya tidak sebagaimana tampilan dari luar. Ia kesulitan keuangan walaupun tanahnya banyak, tp tanah itu tidak likuid.
- System Leverage: Small possibilities big result. Point 7 ini menjelaskan bahwa penting untuk menemukan satu titik yang dapat dijadikan sebagai leverage point. Saat kita berfokus pada suatu yang kecil atau tersembunyi tersebut, ternyata ia somehow bisa memberikan pengaruh yang sangat besar. Sebagai contoh: ada seorang penulis buku, pendeta buddhis, iya menuliskan buku2 tentang kisah2 pencerahan dan menentramkan hati. Namun saat buku tersebut terbit, sayangnya buku tersbut tidak laku. Akhirnya, dicoba lihat dimana titik leveragenya, apa satu hal yang perlu kita rubah sehingga merubah hasilnya. Akhirnya judulnya diganti: Si cacing dan kotoran kesayangannya, dan menakjubkannya dengan mengganti judulnya saja tanpa mengganti isinya, buku tersebut akhirnya masuk best seller. Inilah, titik sentuh yang perlu dikilik sehingga menghasilkan dampak yang luar biasa. Tipping pointnya menjadi penting
- System Ambiguity and paradox. Dalam menghadapi situasi yang ambigu, terkadang perlu bersikap seperti sokrates, I don’t know what I know. Jadi perlu use paradox to facilitate the change. Contoh paradoxnya adalah Achieve more with less atau mencapai lebih dengan usaha sedikit. Pada suatu perusahaan textile yang sudah mapan, mereka memiliki sistem kerja yang sudah mapan, terstruktur,rutin dan sangat efisien. Mereka setiap hari Sabtu masuk, dan jam istirahat 30 menit, mereka sangat efisien dan ketat dalam aturan. Namun, belekangan ini target produksi mulai meleset dan terjadi beberapa nearmiss atau kecelakaan kerja. Akhirnya dipanggilah suatu konsultan. Konsultan tersebut ternyata memahami system thinking. Mereka melihat bahwa sistem kerjanya sudah terlalu effisien dan sudah pol-polan. Akhirnya direkomendasikan untuk menambah jam istirahat. Hari sabtu dibuat bergantian, lalu disiapkan permainan seperti ruang pingponng, dan tempat istirahat. Dan waktu makan ditambah 30 menit. Akhirnya produktivitas meningkat. Mereka mengugnakan paradox untuk mengatasi pemasalahan ini.
So, dengan menerapkan ke-8 hal tersebut di atas dalam kehidupan kita, dalam bekerja ataupun berorganisasi, maka sebetulnya kita sudah melakukan suatu proses secara sistemik.
Selain Michael Hall, Peter Senge (1990) dalam Fifth Discipline juga membahas mengenai System thinking. Menurut beliau, Systems thinking adalah kerangka kerja organisasi yang satu2nya universal dan integrated. Peter Senge meyakini bahwa system thinking ini merupakan jawaban dalam menghadapi abad 21. Peter M. Senge (1947 -) diakui sebagai ‘ Strategist of the Century ‘ oleh the Journal of Business Strategy, dianggap sebagai salah satu dari 24 pria dan wanita yang telah memiliki dampak terbesar pada cara kita melakukan bisnis saat ini (September/Oktober 1999 ). Sementara ia telah mempelajari bagaimana perusahaan dan organisasi mengembangkan kemampuan adaptif selama bertahun-tahun di MIT (Massachusetts Institute of Technology), di tahun 1990 buku Peter Senge, The Fifth Discipline membuatnya mempopulerkan konsep apa yang kita sebut dengan “Organisasi Pembelajar”.
Sebagai organisasi pembelajar, suatu organisasi harus dapat mendorong para anggotanya untuk terus beradaptasi untuk menghadapi setiap perubahan lingkunagan dan kemajuan yang ada. Peter Senge (1992) menyebutkan untuk menjadi organisasi pembelajar, organiasi dapat mengaplikasikan lima disipin ilmu atau yang sering dikenal dengan The Fifth Discipline, yaitu Personal Mastery, Mental Models, Shared Vision, Team learning dan System Thinking.
Berikut adalah ke-lima disiplin tersebut:
- Personal Mastery : competence & skills. Dengan disiplin Personal Mastery berarti individu di dalam organisasi terus memfokuskan diri untuk meningkatkan kemampuan dan kapabilitas diri dengan belajar dan memfokuskan energi untuk terus menerus memperdalam visi pribadi. Kepiawaian personal itu tidak cukup hanya punya ilmu, tapi juga perlu menekuni dan mendalami visi dan realitasnya. Bandingkan antara visi dan realitas. Kalau realitas mendekati visi, artinya kita semakin mendekati visi.
- Mental Models: ada yang bilang ini mirip dengan mindset, namun ada juga yang bilang berbeda. Ini adalah kita memiliki peralatan yang dengan alat tersebut mampu membuat kita mencapai tujuan. Contoh: seorang pemain saham, dia tidak hanya menganalisas secara fundamental, tp dilihat juga secara teknikalnya dan juga psikologis dari pasar. Orang yang bermain di saham, harus punya mental models yang lengkap. Hukum pareto juga termasuk dalam mental models. Mental model ada yang cocok untuk suatu periode, tp ada yang sudah out of date, sehingga perlu tetap di upgrade.
- Shared Vision: apakah visi yang kita miliki benar2 dijalankan? Visi yang muluk, cakep dan well said itu sejalan kah dengan values dan purpose? Apakah itu hanya gantungan belakang yang bagus tp tidak diimplementasikan. Tidak ada terinteranalisasi ke dalam diri setiap insan di perusahaan
- Team Learning: pembelajaran itu bukan sekedar belajar teorinya, tapi juga menerapkannya. Kalau tidak menerapkan ilmu, maka itu belum termasuk ke dalam learning. Ini menurut peter senge. Jika ada seorang pembicara yang mahir, tp tidak dipraktekkan, maka dia sebetulnya belum learning. Team learning itu tidak sekedar team building saja, tp bagaimana mereka solve the problem.
- System Thinking. Keempat hal tersebut (personal mastery, mental models, shared vision dan team learning) diikat dalam suatu disiplin yang disebut dengan system thinking. Perlu diingat bahwa System Thinking ini merupakan landasan terpenting yang dapat mengintegerasikan setiap individu, kegiatan, serta disiplin yang ada di dalam organisasi. Karena tanpa mengaplikasikan berfikir sistem, individu di dalam organisasi hanya melihat segala sesuatu yang ada secara parsial tanpa melihat secara holistic dan satu kesatuan.
Kesimpulan: Menghadapi peradaban dan era yang penuh dengan perubahan yang cepat ini, perlu disikapi dengan suatu mental dan disiplin yang sistemik. Hadapi VUCA dengan VUCA, dan praktekkan system thinking (Peter Sengee) dan systemic coaching (Michael Hall) dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tidak terbatas dalam pekerjaan sebagai coach, namun juga dalam kehidupan berkeluarga, masyarakat dan berorganisasi. Selamat mempraktekkan. Sesungguhnya sebuah ilmu hanya akan mubazir ketika tidak disertai dengan penerapan.
Tulisan ini ditulis oleh Tina M dan terinspirasi dari sesi: MCF Cafe, 13 January 2021, dengan fasilitator Pak Indra Gunawan, former wakil Presider Direktur Kompas Gramedia (1992-2004) dan meta-coach.


Leave a comment